Loading...

Tren Pengiriman Komoditi di Indonesia yang Menguat di 2025

aktivitas pengiriman komoditi dari Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik ditengah fluktuasi ekonomi

Informasi & Eskport Import 11 November 2025 Husein Tim website
Tren Pengiriman Komoditi di Indonesia yang Menguat di 2025

Dalam beberapa bulan terakhir, aktivitas pengiriman komoditi dari Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik. Di tengah fluktuasi ekonomi global dan perubahan harga bahan baku, kinerja ekspor nasional justru masih mencatat tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia tetap surplus hingga pertengahan tahun 2025, terutama didorong oleh komoditas non-migas yang menjadi tulang punggung ekspor.

Pada periode Januari hingga Mei 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD 15,38 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa nilai ekspor masih jauh lebih tinggi dibandingkan impor, meski terdapat penurunan di beberapa sektor tradisional seperti batu bara dan migas. Secara total, nilai ekspor semester pertama tahun ini mencapai USD 135,41 miliar atau meningkat sekitar 7,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, aktivitas pengiriman barang ke luar negeri, baik melalui jalur laut maupun udara, tetap ramai dan menjadi motor utama dalam roda logistik nasional.

Komoditas yang Mendorong Pertumbuhan

Salah satu sektor yang paling menonjol adalah lemak dan minyak nabati, terutama minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya. Dalam enam bulan pertama 2025, nilai ekspor komoditas ini melonjak hingga USD 11,43 miliar, naik lebih dari 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Permintaan tinggi dari pasar Asia dan Eropa menjadikan pengiriman minyak sawit sebagai salah satu kegiatan paling sibuk di pelabuhan-pelabuhan utama seperti Belawan, Dumai, dan Tanjung Priok.

Selain itu, industri besi dan baja juga mencatat pertumbuhan signifikan dengan nilai ekspor mencapai USD 13,79 miliar. Peningkatan ini mencerminkan tingginya permintaan global terhadap bahan baku industri dan konstruksi, terutama dari Tiongkok yang menjadi tujuan ekspor terbesar Indonesia. Pengiriman besi dan baja memerlukan logistik khusus — mulai dari kapal curah hingga kontainer berkapasitas besar — yang kini menjadi fokus bagi operator pelabuhan dan penyedia jasa ekspedisi.

Sementara itu, komoditas tambang seperti batu bara justru mengalami penurunan sekitar 21 persen menjadi USD 11,97 miliar. Penurunan ini disebabkan turunnya harga internasional dan pembatasan ekspor di beberapa wilayah. Meski begitu, penurunan di sektor ini tampaknya diimbangi oleh meningkatnya ekspor barang pengolahan, sehingga total nilai pengiriman ke luar negeri masih terjaga positif.

Diversifikasi Tujuan Pengiriman

Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor non-migas Indonesia, dengan pangsa mencapai lebih dari 22 persen dari total ekspor atau sekitar USD 29 miliar dalam enam bulan pertama 2025. Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan nilai ekspor sekitar USD 14,79 miliar, diikuti India dengan USD 8,97 miliar. Ketiga negara ini menjadi poros utama dalam rantai logistik internasional Indonesia.

Menariknya, beberapa bulan terakhir juga menunjukkan tren diversifikasi pasar ke wilayah yang sebelumnya kurang dominan. Salah satu contohnya adalah ekspor getah damar dari Provinsi Lampung ke Senegal di Afrika Barat. Pengiriman ini dilakukan oleh pelaku usaha kecil melalui PT Pos Indonesia, menandai langkah positif dalam membuka pasar baru bagi komoditas khas Indonesia. Begitu pula dengan ekspor produk perikanan seperti udang, tuna, cakalang, cumi, dan rumput laut yang kini mulai menjangkau Vietnam, Australia, hingga Yordania.

Diversifikasi pasar ini penting bukan hanya untuk meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga untuk menjaga kestabilan arus pengiriman. Ketika satu wilayah mengalami perlambatan ekonomi, pasar alternatif di kawasan lain dapat membantu menyeimbangkan permintaan dan menjaga ritme logistik tetap berjalan.

Tantangan di Sektor Pengiriman

Meski tren ekspor secara umum menguat, tantangan di sektor pengiriman masih cukup besar. Salah satu isu yang sempat mencuat adalah perbedaan pencatatan data ekspor feronikel antara Indonesia dan Tiongkok. Perbedaan volume dan harga yang dilaporkan kedua negara menunjukkan bahwa transparansi data ekspor masih perlu diperkuat agar sistem logistik dan pengawasan perdagangan menjadi lebih akurat.

Selain itu, beberapa wilayah di Indonesia mengalami fluktuasi ekspor yang tajam. Sebagai contoh, di Provinsi Kalimantan Utara, ekspor komoditas non-migas pada April 2025 turun lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama berasal dari sektor pertanian dan pertambangan yang melemah akibat faktor cuaca dan permintaan global. Penurunan semacam ini dapat mempengaruhi efisiensi rantai pengiriman, karena berkurangnya volume muatan menyebabkan kapasitas logistik tidak terpakai secara optimal.

Bagi pelaku industri pengiriman dan ekspedisi, kondisi ini menjadi sinyal penting untuk terus beradaptasi. Pergeseran dari komoditas mentah ke produk olahan, misalnya, menuntut jenis pengiriman yang berbeda. Jika sebelumnya dominan kapal curah untuk bahan tambang, kini semakin banyak permintaan kontainer berpendingin (reefer container) untuk produk perikanan atau makanan olahan yang bernilai tinggi.

Masa Depan Pengiriman Komoditi Indonesia

Melihat tren hingga pertengahan tahun, masa depan ekspor Indonesia tampak cukup menjanjikan. Kenaikan nilai ekspor non-migas menjadi bukti bahwa industri dalam negeri mulai bertransformasi ke arah produk bernilai tambah. Di sisi lain, peluang untuk memperluas pasar ke negara-negara berkembang di Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan juga semakin terbuka.

Bagi sektor logistik dan pengiriman, arah ini berarti peluang besar. Permintaan akan jasa pengiriman lintas negara, baik dalam skala besar maupun menengah, akan terus tumbuh. Operator pelabuhan, perusahaan ekspedisi, hingga penyedia jasa tracking online dapat mengambil peran penting dalam memastikan arus barang berjalan lancar. Penguatan infrastruktur digital seperti sistem pelacakan real-time, integrasi data bea cukai, dan optimalisasi rute kapal akan menjadi kunci agar Indonesia mampu menjaga daya saingnya di pasar global.

Pada akhirnya, data ekspor bukan sekadar angka ekonomi, melainkan cerminan aktivitas logistik dan mobilitas komoditas yang menyokong perekonomian nasional. Jika tren positif ini terus berlanjut, pengiriman komoditi dari Indonesia bukan hanya akan semakin besar dalam nilai, tetapi juga semakin luas dalam jangkauan. Dari pelabuhan-pelabuhan utama di Sumatera dan Kalimantan hingga pasar-pasar baru di Afrika dan Timur Tengah, roda pengiriman Indonesia tampak semakin berputar kencang di tahun 2025.